Balada semangkuk bubur jamu...
Memang berbagai warganegara, beragam corak wajah menghiasi kekayaan geografis tanah Southern Cross ini: Dari mereka yang berkumis tuebaaall, selebar dan sebesar gagang telepon! *hiiyy* sampai mereka yang berkumis tipis laksana saringan kopi tubruk, semuanya tumplek di sini. Tapi, terlepas dari urusan kumis...Sungguh keberagaman yang kaya akan nuansa kebersamaan, yang tentunya membawa keuntungan dan 'keanehan2annya' tersendiri.
Being live here for 14 years...That! does NOT guarrantee my ability to fluently comprehend how people pronounce and speaks their english. At least not to my ears. Somehow, I frequently found myself begging for their pardon...asking for repetitions, as they speak mumbly and rarely pronounce the few last alphabets...pokoknya di kuping mah kedengerannya kaya... "wes ewes-ewes ewes bablas angine!" *hik hik hik*
Satu hal kecil lain yang ringan, misalnya makanan atau masakan. Yaitu, melihat sejenis pisang raja yang digoreng tanpa tepung itu, kemudian dimakan jadi satu dengan nasi dan sayur 'gulai' sungguh terasa cukup aneh. belom lagi saya pernah ngeliat seorang bule, melahap selempeng irisan hard tofu (iya, bener, si tahu putih yang direbus itu) dijepit dengan setangkap roti hamburger dan "Hap!" dilahap dengan nikmatnya.
Adalagi, salah satu dari idung pesek asal Khazakstan, yang notabene sering gaul dengan kita-kita disini, yang selalu, dan tidak-bisa-tidak mencampurkan makanan-nya dengan saus tomat. Mulai dari lauk pauk--yang...well, I guess, makanan yang (some of them) mungkin terasa lazim untuk dibubuhi saus tsb...sampai ke...Pancake Fruit Salad! *gleg*
Hal serupa juga terlihat cukup aneh buat rekan-rekan yang melihat saus sambel cap Dua Belibis yang selalu setia dibawa kemana-mana, keluar masuk restoran.
Sampai-sampai sang manager restoran selalu melayangkan lirikan mautnya, tanda curiga sayah nyolong saus dari meja resto itu (lagian, masa jadi maling soas tomat? gak kreatip amat! ye ye yeee...) yang, saking sebelnya, pernah suatu kali, sayah datengin aja si idung pesek itu, lalu senyum manis sambil kedip2 (abis tampangnya udah kaya mo nelen orang gt *kikikik*)...
"I can understand your concern, whenever you were glancing on the bottle I have in my hand every time. But, this is my dietary supplement! and none of your bottles on the table has this label. With this 'magical' ketchup, I enjoy more of your meals and made me come back for more"
Sambil nyengir mesem2 dia cuman mbales:
"ayam sore, miss. ai...ai...dong min yu wut stil mai ketcap botel. but pliss, op cors u can bring your on sauce botel...."
("I am sorry, miss. I...I..don't mean you would steal my ketchup bottle. But off course you can bring your own sauce bottle.")
Pengalaman saya mencicipi makanan khas teman2 dari berbagi negera jg lumajen banyak dan sering. Tapi kali ini kami diundang ke rumah untuk bersantap siang ke rumah seorang pemuda asal Pakistan. Saya sendiri memang rada norak dengan masakan Pakistan yang katanya agak berbeda dengan masakan India (yang setelah dikasih tau oleh orang Indianya sendiri, ternyata Indian dish sendiri pun terbagi menjadi 2 region: Northern and Southern Indian Cousine)
Jadi...Gimana sih rasanya makanan Pakistan itu?
Buat lidah saya mah, sama aja seperti masakan India, dengan aroma kari yang terasa nyaring di hidung, dan roti adalah pengganti nasi. Roti yang bentuknya rada-rada gosong dikit, bundar-melingkar setebal jari, yang kemudian disobek, dibentuk seperti sendok dulu dan dicelupkan kedalam sup...trus langsung deh - aa..am! masuk ke mulut!
Sopnya...sop biji-bijian yang didalamnya ada kacang merah, kacang ijo, dan beberapa jenis biji-bijian lainnya (lentil, kayaknya) dengan aroma kari dan irisan daun seledri...rasanya ...*maap, yaaa maappp* ...agak2 ajaib gituh. Singkatnya bubur kacang ijo rasa kuah rendang campur roti sobek - gitu2 deh. Cuman ya...mau apalagi? Komplen nggak bisa! Kulayangkan pandangku ke arah si Sandra, anak Engineering, dia hanya berusaha menunjukkan tampang seolah-olah dia menikmati makan siang itu, dan seskali senyum-senyum dan ngangguk, pasti dia ditanya apakah masakannya enak apa nggak...padahal sih dari tampangnya udah keliatan seret bin berjuang jugak *hihihihi*
"Do you like it?" Tanya tuan rumah ke sayah. Dan, dengan pedenya langsung aja nyahut balik...
"Oh, this is like my home-cook meal." *abisnya gue musti ngereply apa cobak!*
"Ah, good then...please...have some more. I've cooked plenty to fed the whole suburb! hahaha" gelaknya sambil itu, centong sup yang gede-nya itu persis gayung adonan martabak, hampir aja mau tertuang ke piring gue yang notabene masih belum habis juga si bubur kacang ijo-rasa rendang itu...*walah! bisa berabe wini*
"Oh, Oh...that’s OK! I am good...I'm good...thank you...thank you! allow me to finish this first."
"Ditto...just let me know when you want a second round, K!! ...or you'll know where to fill up your empty bowl." sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Got it!" sambil mesem selebar2nya
(Hadududududuuhhhhh...mateklah awak kalo sampe ditambahim 1 'gayung' lagi.... untunggg...untuuunggg.......)
Sengaja tak lambat-lambatin makan-nya, sambil ngurak-ngarik si bubur rasa jamu itu dengan sendok, selain banyak minum--biarin tu bubur ajaib cepet lewat tenggorokan dan senyum sana-sini dan aakhirnyaaa sedikit demi sedikit habis juga! Ammiiinnnn... sementara si Sandra, masih disibukkan dengan berbagai pertanyaan sampe penjelasan bagaimana caranya memasak bubur jamu itu--kasian, tp dari hasil sadapan kuping dari jauh (baca: nguping! hihihi) jawaban doi mantep booo...yang bikin gw jadi mikir lagi, "tu anak beneran doyan apa ma ni bubur ajaib???"
tapi, selepas sore, saat kami pamit, si Sandra langsung nyerocos...
"That's what he called a human food?! God, help me, I hardly swolloed. Just now, I had no idea of what I was eating...I thought, it was a decent soup!" dumal si Sandra.
"Didn't you like it? You almost convinced me that you were really enjoying what we ate, since I saw you noded a lot...hihihi." godaku
"You're pulling my legs here..." balasnya dengan kesal
"I dunno, I just saw you smiled a lot...and really paid a lot of attention to him, what was it anyway?"
"Oh, you know, he kept on talking-and-talking, as if I really understand what he was saying about the mixture of that soup, this and that...and luckily you came and break the talk..Phew!"
"Hahaha...! Next time, sit next to me"
"I'd better reseved my spot in advance then...HAHAHAHAAA...."

hahaha Nop, waktu ikut exchange student dulu, gue pernah tinggal dikeluarga pakistan selama hampir setahun dan bubur lentils ini hampir jadi makanan tetep setiap hari hehehe... rasa kuahnya agak2 kayak rasa kuah sate padang kan?? trus dimakannya sama roti parhatta (apa prata yak?)... hahaha... gue saking seringnya makan ini bubur... dari gak doyan sampe nambah bo!! hehehe
Posted by: Fereisa | April 24, 2007 08:50 PM